<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Saraswati &#8211; Lamrimnesia Store</title>
	<atom:link href="https://store.lamrimnesia.com/product-tag/saraswati/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://store.lamrimnesia.com</link>
	<description>Find your Pathway here!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 08 Jul 2023 14:30:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.5.8</generator>

<image>
	<url>https://store.lamrimnesia.com/wp-content/uploads/2016/09/cropped-favicon-1-32x32.png</url>
	<title>Saraswati &#8211; Lamrimnesia Store</title>
	<link>https://store.lamrimnesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pratityasamutpada: 12 Mata Rantai yang Saling Bergantungan</title>
		<link>https://store.lamrimnesia.com/product/pratityasamutpada-12-mata-rantai-yang-saling-bergantungan/</link>
					<comments>https://store.lamrimnesia.com/product/pratityasamutpada-12-mata-rantai-yang-saling-bergantungan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[listya]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Oct 2017 04:26:13 +0000</pubDate>
				<guid isPermaLink="false">http://store.lamrimnesia.com/?post_type=product&#038;p=1370</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sang Buddha mengajarkan bagaimana kita berputar-putar di dalam samsara dan bagaimana kita dapat membebaskan diri dengan berbagai cara. Ada dua jalan utama untuk membebaskan diri dari samsara, yang pertama adalah Empat Kebenaran Arya dan yang kedua yaitu Pratityasamutpada (12 Mata Rantai yang Saling Bergantungan).</p>
<p>Nagarjuna, seorang filsuf Buddhis dari Nalanda, menyamakan ajaran 12 Mata Rantai yang Saling Bergantungan sebagai harta karun yang paling berharga di antara semua harta. Hal ini dikarenakan semua aspek dan berbagai kendaraan ajaran Buddha akan dihubungkan kembali dengan 12 Mata Rantai yang Saling Bergantungan ini. Seluruh ajaran Mahayana dipadatkan di dalamnya, begitu pula dengan seluruh ajaran Therawada. Dengan mempelajari 12 Mata Rantai yang Saling Bergantungan ini, kita dapat memahami penyebab keberadaan semua makhluk di dalam samsara, dan tentang tata cara untuk terbebas dari lingkaran keberadaan ini.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com/product/pratityasamutpada-12-mata-rantai-yang-saling-bergantungan/">Pratityasamutpada: 12 Mata Rantai yang Saling Bergantungan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com">Lamrimnesia Store</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pratityasamutpada: 12 Mata Rantai yang Saling Bergantungan</strong><br />
Oleh Dagpo Rinpoche</p>
<p>20×14,8×0,6cm, xiv + 84 hlm<br />
Penerbit Saraswati</p>
<p>Berat 80gr</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com/product/pratityasamutpada-12-mata-rantai-yang-saling-bergantungan/">Pratityasamutpada: 12 Mata Rantai yang Saling Bergantungan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com">Lamrimnesia Store</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://store.lamrimnesia.com/product/pratityasamutpada-12-mata-rantai-yang-saling-bergantungan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tisarana: Gerbang Memasuki Ajaran</title>
		<link>https://store.lamrimnesia.com/product/tisarana-gerbang-memasuki-ajaran/</link>
					<comments>https://store.lamrimnesia.com/product/tisarana-gerbang-memasuki-ajaran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Lisa Santika]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2017 06:31:30 +0000</pubDate>
				<guid isPermaLink="false">http://store.lamrimnesia.com/?post_type=product&#038;p=1055</guid>

					<description><![CDATA[<style type="text/css"><!--br {mso-data-placement:same-cell;}--></style>
<p><span data-sheets-value="{&#34;1&#34;:2,&#34;2&#34;:&#34;Berlindung itu penting, tapi berlindung yang dilandasi iman buta adalah sesuatu yang berbahaya. Buddhisme dilandasi oleh nalar dan logika, dan dengan iringan semangat Ehipassiko (datang, lihat, buktikan) ini, Gungthang Rinpoche III merinci kualitas dari masing-masing Triratna dan menekankan bagaimana Triratna mampu melindungi kita dari aneka marabahaya.\nBiarpun kita hanya punya kecerdasan yang biasa-biasa saja, menaruh keyakinan dan berlindung pada Triratna (setelah sebelumnya memastikan kualitas mereka) akan menjamin tercapainya pencerahan. Dengan kata lain, kita tak perlu menjadi 'ahli kitab' untuk meraih pencerahan, melaikan hanya butuh tekad kuat dan niat tulus untuk belajar, dan kemudian, berlindung.\nUpaya berlindung pada gilirannya juga akan menuntun ke realisasi bahwa semua makhluk pada dasarnya ingin berbahagia, sama saja seperti kita. Kita butuh perlindugan karena takut menderita, dan kiranya tak ada makhluk yang suka menderita. Lebih jauh, ketika kita menyadari bahwa kebahagiaan kita pada dasarnya bergantung pada kebahagiaan makhluk lain, kita pastinya akan berjuang memastikan kebahagiaan mereka, berhubung kebahagiaan kita sama dengan kebahagiaan orang lain (bayangkan saja bencana apa yang akan terjadi bila, misalnya, kaum tani tak bahagia dan akhirnya mogok bertani). Realisasi ini jauh lebih berharga ketimbang intelektualitas cuap-cuap. Dari sini, kita menyadari bahwa prakti berlindung tak lain daripada upaya penyempurnaan diri agar kelak kita bisa berkontribusi pada perdamaian dunia.&#34;}" data-sheets-userformat="{&#34;2&#34;:33569729,&#34;3&#34;:{&#34;1&#34;:0},&#34;9&#34;:1,&#34;10&#34;:1,&#34;11&#34;:1,&#34;12&#34;:0,&#34;14&#34;:[null,2,6710886],&#34;15&#34;:&#34;Roboto&#34;,&#34;16&#34;:10,&#34;28&#34;:1}">Berlindung itu penting, tapi berlindung yang dilandasi iman buta adalah sesuatu yang berbahaya. Buddhisme dilandasi oleh nalar dan logika, dan dengan iringan semangat Ehipassiko (datang, lihat, buktikan) ini, Gungthang Rinpoche III merinci kualitas dari masing-masing Triratna dan menekankan bagaimana Triratna mampu melindungi kita dari aneka marabahaya.<br />
Biarpun kita hanya punya kecerdasan yang biasa-biasa saja, menaruh keyakinan dan berlindung pada Triratna (setelah sebelumnya memastikan kualitas mereka) akan menjamin tercapainya pencerahan.</span></p>
<p><span data-sheets-value="{&#34;1&#34;:2,&#34;2&#34;:&#34;Berlindung itu penting, tapi berlindung yang dilandasi iman buta adalah sesuatu yang berbahaya. Buddhisme dilandasi oleh nalar dan logika, dan dengan iringan semangat Ehipassiko (datang, lihat, buktikan) ini, Gungthang Rinpoche III merinci kualitas dari masing-masing Triratna dan menekankan bagaimana Triratna mampu melindungi kita dari aneka marabahaya.\nBiarpun kita hanya punya kecerdasan yang biasa-biasa saja, menaruh keyakinan dan berlindung pada Triratna (setelah sebelumnya memastikan kualitas mereka) akan menjamin tercapainya pencerahan. Dengan kata lain, kita tak perlu menjadi 'ahli kitab' untuk meraih pencerahan, melaikan hanya butuh tekad kuat dan niat tulus untuk belajar, dan kemudian, berlindung.\nUpaya berlindung pada gilirannya juga akan menuntun ke realisasi bahwa semua makhluk pada dasarnya ingin berbahagia, sama saja seperti kita. Kita butuh perlindugan karena takut menderita, dan kiranya tak ada makhluk yang suka menderita. Lebih jauh, ketika kita menyadari bahwa kebahagiaan kita pada dasarnya bergantung pada kebahagiaan makhluk lain, kita pastinya akan berjuang memastikan kebahagiaan mereka, berhubung kebahagiaan kita sama dengan kebahagiaan orang lain (bayangkan saja bencana apa yang akan terjadi bila, misalnya, kaum tani tak bahagia dan akhirnya mogok bertani). Realisasi ini jauh lebih berharga ketimbang intelektualitas cuap-cuap. Dari sini, kita menyadari bahwa prakti berlindung tak lain daripada upaya penyempurnaan diri agar kelak kita bisa berkontribusi pada perdamaian dunia.&#34;}" data-sheets-userformat="{&#34;2&#34;:33569729,&#34;3&#34;:{&#34;1&#34;:0},&#34;9&#34;:1,&#34;10&#34;:1,&#34;11&#34;:1,&#34;12&#34;:0,&#34;14&#34;:[null,2,6710886],&#34;15&#34;:&#34;Roboto&#34;,&#34;16&#34;:10,&#34;28&#34;:1}">Dengan kata lain, kita tak perlu menjadi 'ahli kitab' untuk meraih pencerahan, melaikan hanya butuh tekad kuat dan niat tulus untuk belajar, dan kemudian, berlindung.<br />
Upaya berlindung pada gilirannya juga akan menuntun ke realisasi bahwa semua makhluk pada dasarnya ingin berbahagia, sama saja seperti kita. Kita butuh perlindugan karena takut menderita, dan kiranya tak ada makhluk yang suka menderita.</span></p>
<p><span data-sheets-value="{&#34;1&#34;:2,&#34;2&#34;:&#34;Berlindung itu penting, tapi berlindung yang dilandasi iman buta adalah sesuatu yang berbahaya. Buddhisme dilandasi oleh nalar dan logika, dan dengan iringan semangat Ehipassiko (datang, lihat, buktikan) ini, Gungthang Rinpoche III merinci kualitas dari masing-masing Triratna dan menekankan bagaimana Triratna mampu melindungi kita dari aneka marabahaya.\nBiarpun kita hanya punya kecerdasan yang biasa-biasa saja, menaruh keyakinan dan berlindung pada Triratna (setelah sebelumnya memastikan kualitas mereka) akan menjamin tercapainya pencerahan. Dengan kata lain, kita tak perlu menjadi 'ahli kitab' untuk meraih pencerahan, melaikan hanya butuh tekad kuat dan niat tulus untuk belajar, dan kemudian, berlindung.\nUpaya berlindung pada gilirannya juga akan menuntun ke realisasi bahwa semua makhluk pada dasarnya ingin berbahagia, sama saja seperti kita. Kita butuh perlindugan karena takut menderita, dan kiranya tak ada makhluk yang suka menderita. Lebih jauh, ketika kita menyadari bahwa kebahagiaan kita pada dasarnya bergantung pada kebahagiaan makhluk lain, kita pastinya akan berjuang memastikan kebahagiaan mereka, berhubung kebahagiaan kita sama dengan kebahagiaan orang lain (bayangkan saja bencana apa yang akan terjadi bila, misalnya, kaum tani tak bahagia dan akhirnya mogok bertani). Realisasi ini jauh lebih berharga ketimbang intelektualitas cuap-cuap. Dari sini, kita menyadari bahwa prakti berlindung tak lain daripada upaya penyempurnaan diri agar kelak kita bisa berkontribusi pada perdamaian dunia.&#34;}" data-sheets-userformat="{&#34;2&#34;:33569729,&#34;3&#34;:{&#34;1&#34;:0},&#34;9&#34;:1,&#34;10&#34;:1,&#34;11&#34;:1,&#34;12&#34;:0,&#34;14&#34;:[null,2,6710886],&#34;15&#34;:&#34;Roboto&#34;,&#34;16&#34;:10,&#34;28&#34;:1}">Lebih jauh, ketika kita menyadari bahwa kebahagiaan kita pada dasarnya bergantung pada kebahagiaan makhluk lain, kita pastinya akan berjuang memastikan kebahagiaan mereka, berhubung kebahagiaan kita sama dengan kebahagiaan orang lain (bayangkan saja bencana apa yang akan terjadi bila, misalnya, kaum tani tak bahagia dan akhirnya mogok bertani). Realisasi ini jauh lebih berharga ketimbang intelektualitas cuap-cuap. Dari sini, kita menyadari bahwa prakti berlindung tak lain daripada upaya penyempurnaan diri agar kelak kita bisa berkontribusi pada perdamaian dunia.</span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com/product/tisarana-gerbang-memasuki-ajaran/">Tisarana: Gerbang Memasuki Ajaran</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com">Lamrimnesia Store</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tisarana: Gerbang Memasuki Ajaran</strong><br />
<strong>Oleh Konchog Tenpei Dronme (Gungthang Rinpoche III)</strong></p>
<p>21&#215;14,7&#215;0,6cm, xviii + 50 hlm<br />
Penerbit Saraswati</p>
<p>Berat 85gr</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com/product/tisarana-gerbang-memasuki-ajaran/">Tisarana: Gerbang Memasuki Ajaran</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com">Lamrimnesia Store</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://store.lamrimnesia.com/product/tisarana-gerbang-memasuki-ajaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
