<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lamrimnesia Store</title>
	<atom:link href="https://store.lamrimnesia.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://store.lamrimnesia.com</link>
	<description>Find your Pathway here!</description>
	<lastBuildDate>Thu, 30 Jul 2020 13:28:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.5.8</generator>

<image>
	<url>https://store.lamrimnesia.com/wp-content/uploads/2016/09/cropped-favicon-1-32x32.png</url>
	<title>Lamrimnesia Store</title>
	<link>https://store.lamrimnesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Welas Asih: Masihkah Relevan di Masa Kini?</title>
		<link>https://store.lamrimnesia.com/2020/07/30/welas-asih-masihkah-relevan-di-masa-kini/</link>
					<comments>https://store.lamrimnesia.com/2020/07/30/welas-asih-masihkah-relevan-di-masa-kini/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[oktafian.fedrik]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2020 09:08:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blogs]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://store.lamrimnesia.com/?p=7653</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Dunia yang lebih berwelas asih dimulai dari individu, orang-orang seperti Anda dan saya. Semoga buku ini membantu Anda melihat bahwa welas asih tidaklah heroik; welas asih itu manusiawi.”-hlm 254 Di budaya kontemporer penuh dengan hiruk pikuk dan tuntutan untuk berkompetisi, istilah welas asih seakan menjadi kosa kata asing untuk kehidupan pribadi maupun bermasyarakat kita. Secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com/2020/07/30/welas-asih-masihkah-relevan-di-masa-kini/">Welas Asih: Masihkah Relevan di Masa Kini?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com">Lamrimnesia Store</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Dunia yang lebih berwelas asih dimulai dari individu, orang-orang seperti Anda dan saya. Semoga buku ini membantu Anda melihat bahwa welas asih tidaklah heroik; welas asih itu manusiawi.”-hlm 254</em></p><p>Di budaya kontemporer penuh dengan hiruk pikuk dan tuntutan untuk berkompetisi, istilah welas asih seakan menjadi kosa kata asing untuk kehidupan pribadi maupun bermasyarakat kita. Secara pribadi, kita sering kali merasa bahwa ketika kita telah melakukan sesuatu yang penting atau menorehkan sejumlah prestasi, kita baru boleh berwelas asih terhadap diri kita. Kita harus bersikap keras terhadap diri kita, memecutnya setiap saat tanpa membiarkannya istirahat atau memberi ruang untuk kesalahan. Tak jauh berbeda dalam bermasyarakat, kita cenderung memiliki hubungan yang rumit dengan nilai seperti welas asih. Kita penuh curiga terhadap orang asing dan penuh perasaan ambivalen terhadap orang yang pernah melukai kita. Maka dari itu, pemikiran bahwa berwelas asih terhadap diri dan orang lain membuat diri kita lemah pun jadi makanan sehari-hari. Welas asih juga kerap dianggap sebagai urusan agama dan moralitas—urusan pribadi yang hampir tak punya hubungan dengan masyarakat. Padahal, sesungguhnya manusia terlahir dengan kemampuan alamiah untuk bisa berempati dan berwelas asih terhadap sesama.</p><p>Berpijak dari pandangan tersebut, Thupten Jinpa memaparkan secara cantik—sesuai judul buku tersebut—bagaimana berani berwelas asih justru tak memberikan hasil yang negatif seperti dalam bayangan kita. Welas asih ternyata dapat mengubah hidup kita menuju arah yang lebih baik, mulai dari mengubah cara kita menyikapi masalah, berhubungan dengan orang lain, dan bekerja dengan hati. “Hati Tanpa Gentar” menyajikan tak hanya penjelasan mengenai kehebatan berwelas asih melalui pengalaman hidup dan observasi, namun disertai pula dengan berbagai penelitian ilmiah di bidang psikologi. Dalam salah satu bab dalam buku ini misalnya, Thupten Jinpa tidak hanya menjelaskan mengenai bagaimana welas asih membantu membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain melalui sudut pandang pribadinya, namun juga disertai penelitian ilmiah yang memaparkan manfaatnya yang dapat melawan salah satu bentuk penderitaan yang paling menyakitkan—kesepian. Isu yang dibahas dalam buku ini pun beragam—dari masalah yang sifatnya personal hingga masalah yang sudah berakar dan sistemik di dunia seperti persoalan menyikapi rasialisme.</p><p>Secara umum, buku ini mengupas paradigma welas asih menjadi 3 bagian besar, bagian 1 menjelaskan alasan pentingnya welas asih dalam hidup, bagian 2 menjelaskan mengenai cara-cara piawai dalam melatih batin dan hati kita, dan bagian akhir ditutup dengan pembahasan mengenai membangun cara baru dalam bersikap. Melalui bagian-bagian tersebut, Thupten Jinpa tidak sekadar mengutarakan peran penting welas asih dalam hidup, tetapi juga pada akhirnya secara apik menampik pandangan kita yang sering kali keliru melihat welas asih sebagai sesuatu yang naif, suci, dan terlalu tinggi untuk bisa kita praktikkan. Pada bagian 2 dalam buku ini, kita juga diajarkan langsung mengenai praktik-praktik sederhana yang bisa kita lakukan secara mandiri langkah demi langkah untuk membangkitkan welas asih terhadap diri sendiri dan orang lain. Pada bagian akhir, Thupten Jinpa juga dengan mahir memberikan pengaplikasian welas asih dalam berbagai konteks—rumah, sekolah, bahkan tempat kerja yang sering kali dihubung-hubungkan dengan persaingan yang saling sikut.</p><p>Jika Anda pernah bertanya-tanya dalam diri, “Bagaimana aku bisa melangkah dari masa lalu yang pahit?”, “Bagaimana mungkin aku bisa memaafkan orang yang telah menyakitiku dengan dalam?”, atau sesederhana, “Bagaimana aku bisa menjalani keseharianku dengan lebih bahagia dan penuh makna?”, “Hati Tanpa Gentar” adalah buku yang tepat. Meskipun sarat akan istilah-istilah Buddhisme dan padanan kata ilmiah, buku ini sangat cocok untuk dibaca oleh kalangan manapun karena gaya bahasanya yang universal dan sederhana. Buku ini juga memberikan contoh-contoh yang dekat dengan keseharian kita dalam menjelaskan welas asih, mulai dari kisah seorang perawat yang harus menghadapi seorang ibu dengan anaknya yang sekarat, hingga kisah Camellia Group, sebuah perusahaan yang berhasil menjaga kesejahteraan karyawannya dengan filosofi welas asih. Melalui kisah-kisah tersebut, pembaca diajak untuk merasakan pengalaman berbagai orang dalam buku ini secara langsung sebagai penguat bahwa welas asih bukanlah sesuatu yang hanya bisa dibangun oleh segelintir orang terpilih. Welas asih merupakan sesuatu yang sesungguhnya amat dekat dengan diri kita dan hanya butuh pemicu dari diri kita untuk mengobarkannya.</p><p>Pada akhirnya, buku ini juga memberikan tantangan bagi kita untuk merefleksikan sikap kita terhadap hidup yang kita jalani:&nbsp;&nbsp;</p><p><em>“Pertanyaannya bukan apakah saya berwelas asih atau tidak; melainkan: Apakah saya akan membuat pilihan untuk mengekspresikan bagian yang lebih berwelas asih dari diri saya? Entah kita menjalani hidup kita dengan welas asih atau tidak, entah kita berhubungan dengan diri sendiri, orang lain, dan dunia di sekitar kita dengan welas asih, pengertian, dan kebaikan atau tidak—semua ini tergantung pada kita.”</em><em> -hlm 254</em></p><p>Satu keunggulan <a href="https://play.google.com/store/books/details/Thupten_Jinpa_PhD_Hati_Tanpa_Gentar?id=E2fvDwAAQBAJ">buku ini </a>yang tak akan lekang oleh waktu adalah selama kita masih hidup sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan orang lain, buku ini akan selalu relevan, berapa kali pun kita membacanya.</p><p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Thupten_Jinpa_PhD_Hati_Tanpa_Gentar?id=E2fvDwAAQBAJ">&#8220;Hati Tanpa Gentar&#8221;</a><br>Karya Thupten Jinpa Ph.D</p><p>Tersedia di Google Play Books.</p><p>The post <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com/2020/07/30/welas-asih-masihkah-relevan-di-masa-kini/">Welas Asih: Masihkah Relevan di Masa Kini?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com">Lamrimnesia Store</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://store.lamrimnesia.com/2020/07/30/welas-asih-masihkah-relevan-di-masa-kini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menumbuhkan Minat Baca pada Anak Sejak Dini ala Amelinda</title>
		<link>https://store.lamrimnesia.com/2020/07/25/menumbuhkan-minat-baca-pada-anak-sejak-dini-ala-amelinda/</link>
					<comments>https://store.lamrimnesia.com/2020/07/25/menumbuhkan-minat-baca-pada-anak-sejak-dini-ala-amelinda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[oktafian.fedrik]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2020 11:10:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blogs]]></category>
		<category><![CDATA[bacabuku]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[bukuanak. lamrimforkids]]></category>
		<category><![CDATA[bukuceritaanak]]></category>
		<category><![CDATA[goldengem]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://store.lamrimnesia.com/?p=7548</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seseorang yang bekerja sebagai guru sekaligus berperan sebagai seorang ibu di rumah pasti memiliki cara unik dan menarik dalam memberikan pendidikan non-formal di rumah kepada anaknya. Amelinda salah satunya. Di tengah kesibukannya mengajar dan mengurus rumah, Amelinda selalu menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu dengan anaknya. Amelinda percaya bahwa dengan beraktivitas bersama, anak dapat membuka hati [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com/2020/07/25/menumbuhkan-minat-baca-pada-anak-sejak-dini-ala-amelinda/">Menumbuhkan Minat Baca pada Anak Sejak Dini ala Amelinda</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com">Lamrimnesia Store</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seseorang yang bekerja sebagai guru sekaligus berperan sebagai seorang ibu di rumah pasti memiliki cara unik dan menarik dalam memberikan pendidikan non-formal di rumah kepada anaknya. Amelinda salah satunya. Di tengah kesibukannya mengajar dan mengurus rumah, Amelinda selalu menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu dengan anaknya. Amelinda percaya bahwa dengan beraktivitas bersama, anak dapat membuka hati untuk menerima banyak nasihat baik dan contoh baik dari orang tuanya.</p><p>Salah satu “hasil” yang didapat Amelinda dan putrinya, Jeane (5 tahun), adalah sebuah hobi bersama, yaitu membaca! Kok bisa sih anak usia 5 tahun jadi gemar membaca? Padahal minat baca di Indonesia secara umum rendah banget. Menumbuhkan minat baca pada anak jadi tantangan besar karena tidak mudah dilakukan, padahal amat penting bagi pertumbuhan anak.</p><p>Mau tahu cara Kak Amelinda bikin Jeane jadi hobi membaca? Yuk simak wawancara singkat berikut ini!</p><p><strong>Q: Gimana kabar Kak Amelinda dan Jeane selama pandemi ini?</strong></p><p>A: <em>Basically stay home</em> aja sih. Udah 4 bulan kami mendem di rumah nggak pergi kemana-mana karena masih parno sama COVID-19. Aku sendiri juga sedang tidak mengajar soalnya sekolah diliburkan dan Jeane juga di rumah aja. Aku memutuskan untuk mengajar Jeane di rumah dengan sistem <em>homeschooling</em>.</p><figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img fetchpriority="high" decoding="async" src="https://store.lamrimnesia.com/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-23-at-11.01.00-1024x1024.jpeg" alt="" class="wp-image-7551" width="489" height="489" srcset="https://store.lamrimnesia.com/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-23-at-11.01.00-400x400.jpeg 400w, https://store.lamrimnesia.com/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-23-at-11.01.00-367x367.jpeg 367w" sizes="(max-width: 489px) 100vw, 489px" /><figcaption><em><strong>Momen kebersamaan Kak Amelinda dan Jeane menghabiskan waktu di rumah.</strong></em></figcaption></figure><p><strong>Q: Bagaimana rasanya memberikan </strong><strong><em>homeschooling</em></strong><strong> kepada Jeane di rumah?</strong></p><p>A: Seneng banget! Soalnya jadi punya banyak waktu sama anak. Jeane juga <em>enjoy</em> dengan <em>homeschooling</em> selama pandemi. Aku pikir tidak perlu memberikan asupan akademik (seperti matematika rumit, bahasa indonesia seperti yang di buku sekolah sesuai kurikulum) terlalu intens kepadanya. Anak seusianya sangat <em>curious</em> dan akan mempertanyakan hal apapun yang keluar di benaknya. Rata-rata pertanyaan yang ditanyakan Jeane justru tidak ditemukan jawabannya di buku-buku pelajaran, malah lebih banyak ditemukan di buku cerita atau buku-buku lainnya. Akademik memang penting, tapi kalau seorang anak cemerlang di sektor akademiknya tapi nggak punya minat baca juga rasanya kesuksesan akademiknya jadi nggak berarti.</p><figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img decoding="async" src="https://store.lamrimnesia.com/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-25-at-17.54.53.jpeg" alt="" class="wp-image-7552" width="483" height="477"/><figcaption><em><strong>Sumber: <a href="http://www.instagram.com/amelindacoffee">www.instagram.com/amelindacoffee</a><br>contoh aktivitas homeschooling yang diberikan Kak Amelinda kepada Jeane.</strong></em></figcaption></figure><p><strong>Q: Sehari-hari kesibukan Kak Amelinda dan Jeane gimana?</strong></p><p>A: Karena banyak waktu di rumah, kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Pagi-pagi sih Jeane suka nemenin aku masak sambil ngobrol dan saya juga sisipin hal-hal positif di obrolan kita. Lalu siangnya Jeane sekolah bareng aku dan <em>most of the day</em> Jeane membaca sih. Dia suka banget sama membaca.</p><figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img decoding="async" src="https://store.lamrimnesia.com/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-25-at-18.01.07.jpeg" alt="" class="wp-image-7554" width="484" height="477"/><figcaption><em>Sumber: <a href="http://www.instagram.com/amelindacoffee">www.instagram.com/amelindacoffee</a><br>Piknik di rumah merupakan salah satu aktivitas favorit Jeane selama pandemi.</em></figcaption></figure><p><strong>Q: Jarang banget ada anak-anak seusia Jeane yang suka membaca, apa sih rahasianya?</strong></p><p>A: Aku sendiri suka membaca sih, jadi waktu Jeane usia 8 atau 9 bulan aku udah mulai mengenalkan Jeane dengan aksara. Misalnya abjad ABC atau angka, mendongengkan cerita-cerita yang ber-value kebaikan ke dia sebelum tidur, ini bahkan masih aku lakukan lho sampai sekarang. Kadang Jeane protes kalau nggak dibacain cerita. Karena itulah Jeane jadi anak yang senang baca. Di usia 2,5 tahun Jeane sudah mulai membaca ensiklopedi anak, dan di usianya 5 tahun sekarang, dia udah menghabiskan 1 novel singkat Lion King. Dan Jeane bukan tipe anak yang <em>addicted</em> sama <em>gadget</em>. Sesekali aku tunjukin kartun tapi tetap kartun pilihan yang bisa ngajarin kebaikan buat Jeane.&nbsp;</p><p>Q: <strong>Ngomong-ngomong soal dongeng, kenapa sih memilih untuk mendongeng ke Jeane?</strong></p><p>A: <em>Simple</em> sih. Sebenarnya mendongeng itu punya banyak manfaat. Kita bisa jadi makin dekat dengan anak, terus jadi contoh buat anak juga untuk senang membaca, terus bisa nyisipin pesan moral ke anak. Ini tentunya harus jago <em>hunting</em> dan milih buku, ya. Terus yang paling penting adalah kita bisa <em>relate</em> banyak kejadian sehari-hari dengan buku yang udah dibaca bareng.</p><p>Misalnya kalau Jeane lagi ngerjain sesuatu setengah-setengah, aku sih ga akan negur dengan keras: “Jeane, pokoknya selesaiin mama nggak mau tau.” Tapi lebih ke: “Jeane, inget nggak cerita kelinci dan kura-kura yang lomba lari? Kan lebih baik kalau Jeane ngerjain sesuatu pelan tapi pasti kaya kura-kura, daripada cepat tapi setengah jalan dan nggak selesai kaya si kelinci yang sombong.” Nanti Jeane akan sadar sendiri dan kelarin kerjaan dia. Itu karena sering dibacain dongeng yang punya nilai moral gitu. Terus karena kita yang mendongengkan ke anak, kita juga otomatis ke-<em>remind</em> tentang <em>value</em> hidup sederhana yang mungkin sering kita abaikan. <em>Win-win solution</em> banget deh!</p><p><strong>Q: Gimana caranya Kak Amelinda memilih dongeng yang tepat untuk anak?</strong></p><p>A: Biasanya sih sesuai dengan usia anak. Dulu waktu Jeane umur 2-3 tahun bacaannya masih yang sederhana banget, banyak yang repetisi, kata-kata tertentu yang diulang-ulang. Tujuannya sih biar si anak familiar dengan kata itu. Terus kalau udah seusia Jeane sekarang sih udah bisa diberikan cerita yang agak panjang, tapi banyak gambar-gambar bagus, yang sehalaman <em>full</em> gambar dan warna dengan cerita cuma separagraf dan warnanya cerah. Jeane sendiri sih ogah baca cerita anak yang warnanya gelap ya, menakutkan katanya. Ya, <em>most importantly</em> sih harus ada nilai moral yang bisa disisipin.</p><p><strong>Q: Susah nggak sih nemuin buku-buku dongeng atau bacaan untuk anak?</strong></p><p>A: Susah-susah gampang sih, harus pinter-pinter milih. Di indonesia sendiri belum begitu banyak buku anak yang menurutku bagus-bagus banget, jarang banget nemunya. Kebanyakan sih aku belinya buku luar, banyak beli dari Big Bad Wolf sih. Sekali belanja buku Jeane bisa jutaan, hahaha. Kadang aku diomelin sama papanya Jeane. Hahaha.</p><p>Waktu dengar Lamrimnesia launching buku cerita gambar yang <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/permataemas/">“Permata Emas”</a>, aku sih seneng banget. Dari segi kualitas gambar dan cerita sih ini buku yang cocok banget untuk anak-anak seusia Jeane. Gambarnya menarik, warnanya cerah, bukunya ringan, tapi tetap ada nilai moral Buddhis untuk disisipin ke anak (aku juga seorang Buddhis), dan yang paling penting, bilingual. Mungkin udah saatnya buku-buku anak seperti ini banyak beredar di pasaran, biar orang tua bisa menanamkan nilai baik dari membaca kepada anaknya.</p><figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="576" height="1024" src="https://store.lamrimnesia.com/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-25-at-14.13.09-576x1024.jpeg" alt="" class="wp-image-7555" srcset="https://store.lamrimnesia.com/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-25-at-14.13.09-576x1024.jpeg 576w, https://store.lamrimnesia.com/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-25-at-14.13.09-400x711.jpeg 400w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /><figcaption><strong>Sumber: <a href="http://www.instagram.com/lamrimnesiastore">www.instagram.com/lamrimnesiastore</a><br>Dapatkan bukunya <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/permataemas/">di sini.</a></strong></figcaption></figure><p><strong>Q: Pernah nggak sih nemu buku cerita Buddhis lainnya?</strong></p><p>A: Ada sih beberapa dan salah satunya adalah favorit Jeane. Waktu pertama kali aku bacain kisah Sang Buddha ke Jeane, dia nanya beberapa hal ke aku sampe aku bingung dan terheran. Dia nanya, “Ma, <em>sufferings</em> itu apa ya? <em>Enlightenment</em> itu apa ya?.” Nah kalau begini kan kita sebagai orang tua harus lebih dulu paham <em>terms</em> itu baru bisa jelasin ke anak-anak. Jadi sebenarnya mendongeng juga memberikan manfaat ke aku sih sebagai seorang ibu.</p><p><strong>Q: Apa yang menonjol dari cerita Buddhis menurut Kakak?</strong></p><p>A: Menurutku ilmu Buddhis itu <em>value-</em>nya paling universal. <em>Its all about kindness</em> dan <em>letting go ego</em>. Sesuatu yang harus dikasih tahu ke anak dari kecil. Bayangin kalau anak tumbuh tanpa cinta kasih dalam dirinya,<em> it will be a very sad scene to see</em>!</p><p><strong>Q: Pertanyaan terakhir, apa pesan Kak Amelinda untuk </strong><strong><em>young parents</em></strong><strong> di luar sana?</strong></p><p>A: Hmm&#8230;apa, ya? Intinya sih <em>reading is a very good habit to be planted to kids</em> ya. Jadi jangan pernah nyerah untuk terus menanamkan keinginan itu ke anak-anak. Jangan terlalu di forsir juga, <em>you’ll find a way</em> yang kamu dan anakmu bisa <em>enjoy</em>! <em>So love reading and love your kids more</em> &lt;3. Mau apapun profesi kamu <em>as parents</em>, luangin waktu 30 menit baca bareng anak kurasa bukan hal sulit. <em>So, good luck</em>!</p><p>The post <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com/2020/07/25/menumbuhkan-minat-baca-pada-anak-sejak-dini-ala-amelinda/">Menumbuhkan Minat Baca pada Anak Sejak Dini ala Amelinda</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com">Lamrimnesia Store</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://store.lamrimnesia.com/2020/07/25/menumbuhkan-minat-baca-pada-anak-sejak-dini-ala-amelinda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nusantara Dharma Book Festival, 23-24 Februari 2019 Jakarta: Buka Buku Buka Mata untuk Nusantara</title>
		<link>https://store.lamrimnesia.com/2020/07/13/nusantara-dharma-book-festival-23-24-februari-2019-jakarta-buka-buku-buka-mata-untuk-nusantara/</link>
					<comments>https://store.lamrimnesia.com/2020/07/13/nusantara-dharma-book-festival-23-24-februari-2019-jakarta-buka-buku-buka-mata-untuk-nusantara/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsmefedrik]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2020 08:27:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blogs]]></category>
		<category><![CDATA[bedahbuku]]></category>
		<category><![CDATA[bukabukubukamata]]></category>
		<category><![CDATA[ndbf2019]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://store.lamrimnesia.com/?p=7535</guid>

					<description><![CDATA[<p>Nusantara Dharma Book Festival hadir di DKI Jakarta untuk mengajak masyarakat untuk membuka mata terhadap jati diri Indonesia yang sesungguhnya lewat membaca. Pengunjung akan menemukan kembali identitas asli Nusantara yang bijak dan penuh welas asih lewat beragam buku dari lebih dari 30 penerbit. Festival ini juga menghadirkan 12 tokoh dari berbagai latar belakang&#8211;akademisi, jurnalis, pekerja [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com/2020/07/13/nusantara-dharma-book-festival-23-24-februari-2019-jakarta-buka-buku-buka-mata-untuk-nusantara/">Nusantara Dharma Book Festival, 23-24 Februari 2019 Jakarta: Buka Buku Buka Mata untuk Nusantara</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com">Lamrimnesia Store</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Nusantara Dharma Book Festival hadir di DKI Jakarta untuk mengajak masyarakat untuk membuka mata terhadap jati diri Indonesia yang sesungguhnya lewat membaca. Pengunjung akan menemukan kembali identitas asli Nusantara yang bijak dan penuh welas asih lewat beragam buku dari lebih dari 30 penerbit. Festival ini juga menghadirkan 12 tokoh dari berbagai latar belakang&#8211;akademisi, jurnalis, pekerja kreatif, hingga rohaniwan&#8211;yang akan berbagi tentang peran membaca dalam berbagai aspek kehidupan. Selain bazar, <em>talkshow</em>, dan bedah buku, pengunjung juga dapat menikmati hiburan dari siswa-siswi sekolah dasar, pertunjukan barongsai, dan pertunjukan wayang “Sutasoma”, kitab Buddhis yang menjadi sumber kalimat “Bhinneka Tunggal Ika”, semboyan negara kita.</p><h3 class="wp-block-heading">Talkshow Literasi</h3><p>Indeks literasi masyarakat Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Data UNESCO pada tahun 2012 menyatakan bahwa hanya 1 orang yang memiliki minat baca di antara setiap 1000 penduduk. Di sisi lain, Indonesia merupakan salah satu pengguna media sosial terbesar.&nbsp;&nbsp;Penelitian&nbsp;<em>We Are Social</em>, perusahaan media asal Inggris bekerja sama dengan <em>Hootsuite</em>&nbsp;menemukan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan 3 jam 23 menit di media sosial setiap harinya. Hoaks dan berita dengan judul <em>clickbait</em>&nbsp;nan sensasional pun menyebar dengan amat cepat karena para pengguna media sosial langsung &#8216;terbakar&#8217; dan menekan tombol <em>share</em>&nbsp;sebelum membaca isi berita dengan saksama.</p><p>Menanggapi fenomena tersebut, Nusantara Dharma Book Festival menghadirkan <em>talkshow </em>dengan topik seputar peran membaca dalam kehidupan sehari-hari guna meningkatkan minat baca masyarakat. Salah satunya bertajuk &#8220;Today Reader Tomorrow Leader&#8221; yang akan dibawakan oleh <em>entrepreneur </em>muda Yasa Singgih serta &#8220;Parenting by Reading&#8221; oleh pembaca tarot dan pekerja kreatif Noviana Kusumawardhani. Seniman Avianti Armand juga akan hadir untuk berbagi tentang membuka pikiran lewat membaca dan menulis. Kepala Prasadha Jinarakkhita Buddhist Institute Lilis Arief juga akan berbicara tentang tren literasi Indonesia kini dan nanti. Rangkaian <em>talkshow </em>ini ditujukan kepada pemuda selaku generasi penerus bangsa serta para orang tua yang berperan penting untuk menanamkan budaya baca dalam keluarga.</p><h3 class="wp-block-heading"><strong>Buku Buddhis dan Nusantara</strong></h3><p>Indonesia di abad VII-XIII merupakan salah satu pusat pendidikan Buddhis paling berpengaruh di dunia. &#8220;A Record of Buddhist Practices Sent Home from the Southern Sea&#8221; karya Yi Jing menyatakan bahwa siapapun yang hendak belajar Buddhisme di India hendaknya belajar terlebih dahulu di Sriwijaya, tepatnya di situs yang sekarang kita kenal sebagai Candi Muaro Jambi, Sumatera Selatan. Prasasti yang ditemukan di Biara Nalanda, universitas monastik Buddhis tertua dunia, juga menunjukkan adanya hubungan antara kerajaan di India dengan pendeta Buddhis Sriwijaya.</p><p>Peradaban Buddhis di Nusantara kini telah runtuh, tapi nilai-nilai positif dari ajaran Buddha seperti welas asih, toleransi, dan spiritualisme telah menjadi kepribadian bangsa yang mendarah daging dan diwariskan turun-temurun terlepas dari label agama. Contohnya adalah semboyan bangsa &#8220;Bhinneka Tunggal Ika&#8221;. Seruan akan persatuan yang menjadi bagian dari identitas negara ini diambil dari kitab Buddhis &#8220;Sutasoma&#8221; karya Mpu Tantular.</p><p>Kurangnya ketersediaan informasi mengenai nilai-nilai Buddhadharma sebagai warisan sejarah menjadi potensi rasa curiga dan terbentuknya jurang antar kelompok identitas. Di Nusantara Dharma Book Festival, buku-buku tentang Buddhisme dan Nusantara diangkat ke permukaan dengan harga terjangkau agar para pengunjung akan mendapat informasi tentang nilai-nilai bajik yang diwariskan oleh para leluhur serta perkembangan bangsa Indonesia dari masa ke masa dari berbagai sudut pandang. Penerbit yang berpartisipasi dalam bazar buku ini antara lain Noura Books, Penerbit Kanisius, BACA (Bentara Aksara Cahaya), Penerbit Karaniya, Ehipassiko Foundation, dan masih banyak lagi.</p><p>Buku-buku pilihan juga akan dibedah secara mendalam oleh tokoh-tokoh seperti ahli Borobudur Biksu Bhadra Ruci, guru besar ITB Profesor Iwan Pranoto, M.Sc., Ph.D., penulis sekaligus eks-jurnalis Kompas Maria Hartiningsih, serta penulis muda Putu Yudiantara. Beberapa judul yang akan dibedah antara lain adalah “Renungan Siwa Buddha” karya Putu Yudiantara yang menjelaskan ‘kreasi’ leluhur Nusantara dalam menghayati kehidupan spiritual, &#8220;Indonesia di Mata India, Kala Tagore Melawat ke Nusantara&#8221; yang menjabarkan kebudayaan Nusantara dan kedudukannya terhadap negara-negara lain di masa lampau serta &#8220;Bodhipatapradipa: Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan&#8221; karya Atisa Dipankara, guru besar India dan reformis Buddhadharma Tibet yang berguru kepada Mahaguru Suwarnadwipa Dharmakirti di Sriwijaya selama 13 tahun. Ada juga peluncuran dan bedah buku &#8220;Perihal: Guruku&#8221; yang bercerita tentang 30 tahun kiprah Dagpo Rinpoche&#8211;guru besar dari Tibet yang tersohor di seantero Eropa dan diyakini sebagai kelahiran kembali Mahaguru Dharmakirti&#8211;mengembalikan Dharma yang lama hilang dari Nusantara kepada bangsa Indonesia.</p><h3 class="wp-block-heading"><strong>Lomba Kreasi</strong></h3><p>Selain bazar, bedah buku, dan <em>talkshow,</em> Nusantara Dharma Book Festival juga menggelar lomba gambar, fotografi, dan penulisan puisi untuk anak muda usia 12-17 tahun dengan tema “Nusantara”. Peserta dapat mengirimkan karya selama periode submisi 1-8 Februari 2019. Selain penilaian dewan juri, pengunjung Nusantara Dharma Book Festival dapat turut memberikan penilaian pada karya-karya yang akan dipamerkan di <em>venue </em>festival. Pemenang lomba akan diumumkan saat acara.</p><h3 class="wp-block-heading"><strong>Waktu dan Tempat</strong></h3><p>Diselenggarakan pada tanggal 23-24 Februari 2019 di Waterfront Baywalk Mall, Pluit, Jakarta Utara, Nusantara Dharma Book Festival dapat menjadi ajang rekreasi akhir pekan yang menyenangkan sekaligus membuka wawasan. Acara ini juga akan dihadiri oleh&nbsp;200&nbsp;pelajar dari berbagai SMP dan SMA di DKI Jakarta.</p><p>Tidak hanya warga Jakarta saja yang bisa menikmati Nusantara Dharma Book Festival. Pecinta buku dan pencari ilmu dari luar kota juga bisa mendapatkan buku Buddhis dan Nusantara dengan harga promosi secara <em>online </em>via situs Lamrimnesia Store pada tanggal 25 Februari-31 Maret 2019.</p><h3 class="wp-block-heading"><strong>Buka Buku Buka Mata</strong></h3><p>Rangkaian acara Nusantara Dharma Book Festival merupakan bagian dari kampanye membaca bertajuk &#8220;Buka Buku Buka Mata&#8221; dari Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (Lamrimnesia), sebuah lembaga nonprofit yang bergerak di bidang pelestarian nilai-nilai bajik Dharma di Nusantara. Kampanye ini merupakan sebuah usaha untuk meningkatkan minat baca generasi muda demi mewujudkan Indonesia yang cerdas, toleran, bijaksana, dan penuh welas asih.</p><h3 class="wp-block-heading"><a href="bit.ly/ndbfpress2019">Video &amp; Poster</a></h3><h3 class="wp-block-heading"><a href="Lamrimnesia.org/ndbf2019">Website</a></h3><h3 class="wp-block-heading"><a href="http://instagram.com/lamrimnesia">Media Sosial</a></h3><p></p><p>The post <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com/2020/07/13/nusantara-dharma-book-festival-23-24-februari-2019-jakarta-buka-buku-buka-mata-untuk-nusantara/">Nusantara Dharma Book Festival, 23-24 Februari 2019 Jakarta: Buka Buku Buka Mata untuk Nusantara</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://store.lamrimnesia.com">Lamrimnesia Store</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://store.lamrimnesia.com/2020/07/13/nusantara-dharma-book-festival-23-24-februari-2019-jakarta-buka-buku-buka-mata-untuk-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
